Bukan Hamba Nilai (Lagi)
Belajar
dengan metode Zenius
Learning seperti bernolstagia dengan masa sekolah dasar, masa dimana saya
mengembangkan sendiri metode mengerjakan soal, mengeksplorasi cara terekfektif
mendapatkan jawaban, berimajinasi mencoba kemungkinan baru dengan hasil yang
tak disangka, dan merumuskan sendiri rumus cepatnya.
Masa
ketika ditanya mahluk hidup apa yang dapat membuat makanannya sendiri? Saya
jawab manusia, tidak takut salah atau berpikir akan dibully dan dijudge
dodol. Masa ketika nilai rapot adalah angka realistis tanpa batasan minimum
untuk lulus.
Tamat
sekolah dasar, saya diterima di salah satu SMP favorit di kota saya. setiap
nilai mata pelajaran sekurang kurangnya harus mendapat nilai 80/100 Agar bisa
lulus. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan (baca: tidak lulus), saya
didoktrin oleh keadaaan untuk mengikuti petunjuk manual mengerjakan soal dengan
hasil yang pasti ketimbang harus mencoba dan bereksplorasi dengan hasil tak
tentu.
Lingkungan
juga berubah, satu kesalahan yang tidak diinginkan terjadi atau satu pasang
angka di rapot tidak mecapai minimum, maka probabilitas untuk dibully
atau dijudge dodol melambung mendekati satu. Sehingga secara
reflek saya menjadi hamba nilai. “Berijtihad” Menghalalkan semua cara (baca:
mencontek) agar bisa mendapat nilai diatas KKM (kriteria ketuntasan minimal).
Jika dirasa masih kurang, maka selepas ujian semester saya akan kerja
sampingan sebagai kuli nilai. Mengerjakan tugas yang banyak untuk menaikan
nilai, dan jika masih kurang lagi saya akan jadi pengemis berharap belas kasih
agar nilai saya dikatrol sampai ambang batas KKM sehingga orang tua tidak perlu
berkomentar (baca : mengomel) perihal sepasang angka di raport. Angka-angka di
raport adalah hasil manipulasi dan ijtihad keliru.
![]() |
| Sumber : https://www.zenius.net/ |
Lulus
SMP saya melanjutkan ke SMA favorit di provinsi saya. Konsep diri yang tercipta
dari opini negatif lingkungan memicu pola pikir yang keliru dalam
mengaktualisasikan diri saya, sehingga mindset sebagai hamba nilai
membuat saya memilih lebih banyak “berijtihad”, menjadi kuli, dan mengemis
ketimbang harus belajar secara serius. Bukankah di rapot hanya tercantum angka
tanpa keterangan cara mendapatkannya.
Menjelang
ujian nasional beredar kabar bahwa saat ujian nasional akan sulit berijtihad
ditambah lagi Dinas Pendidikan tidak sedang mencari kuli dan juga melarang
pengemis masuk. Maka saya terpaksa belajar untuk sekedar lulus ujian.
![]() |
| Sumber : https://www.zenius.net/ |
Dua
bulan sebelum ujian nasional, saya dipertemukan dengan Zenius Education. Melihat beberapa video
gratis zenius mengelorakan lagi semangat belajar saya yang sudah lama padam.
Akhirnya saya menjadi member premium dan benar saja saya ditunjukan jalan yang
lurus, jalan orang-orang yang berhasil dalam hidupnya. Zenius membuka wawasan
saya akan luasnya ilmu, merombak total konsep diri dan metode belajar saya,
membangkitkan rasa penasaran saya akan misteri teka-teki sains, menawarkan
kemungkinan-kemungkinan yang luas dengan hasil yang tak disangka, menjadikan
saya haus akan ilmu, dan gelap tanpa pengetahuan. Saya belajar dari zenius
bahwa bakat akan kalah dengan kerja keras. Bukankah ketika lahir kita sama-sama
menangis bukan menjelaskan tentang integral atau memberitahu bagaimana cara
kita terbentuk Sembilan bulan lalu.
Saya
bukan lagi hamba nilai, saya berjanji tidak lagi belajar untuk mendapat nilai
atau gelar saya belajar untuk menuntut ilmu. Tapi selesai ujian nasional zenius
malah membuat saya bingung, jurusan apa yang harus saya pilih di SBMPTN ?
Karena dari zenius saya jadi tahu bahwa setiap disiplin ilmu mempunyai
kemungkinan untuk jadi menarik.
![]() |
| Sumber : https://www.zenius.net /blog/1926/kupas-tuntas-soal-sbmptn-2013-bagian-1 |
Tiba-tiba
terbesit sebuah ingatan lama di kepala saya, memori tentang cita-cita masa
kecil saya untuk menjadi seorang dokter. Cita-cita yang sudah lama kadung padam
kini memercik kembali. Zenius memberikan sumber energi dan harapan baru untuk
kembali mengejar cita dan menata masa depan. Dalam waktu satu bulan saya
belajar untuk SBMPTN di zenius, saya diterima di jurusan kedokteran di kota
saya. Seorang siswa paling malas di SMA lolos jurusan kedokteran. Mungkin
mereka tidak bertanya bagaimana metode saya belajar tapi bagaimana
pengawasanya?
Satu hal yang saya sesali dari zenius, mengapa saya tidak tahu zenius dari dulu.




Comments
Post a Comment