Bukan Hamba Nilai (Lagi)

Sumber : https://www.zenius.net/

Tugas guru bukanlah mengajar, tapi merangsang gairah menuntut ilmu, memicu rasa penasaran akan misteri teka-teki sains, menawarkan petualangan dengan kemungkinan-kemungkinan yang luas, menjadikan candu akan ilmu, dan merasa gelap tanpa pengetahuan. itulah yang saya pelajari dari zenius
Belajar dengan metode Zenius Learning seperti bernolstagia dengan masa sekolah dasar, masa dimana saya mengembangkan sendiri metode mengerjakan soal, mengeksplorasi cara terekfektif mendapatkan jawaban, berimajinasi mencoba kemungkinan baru dengan hasil yang tak disangka, dan merumuskan sendiri rumus cepatnya.
Masa ketika ditanya mahluk hidup apa yang dapat membuat makanannya sendiri? Saya jawab manusia, tidak takut salah atau berpikir akan dibully dan dijudge dodol. Masa ketika nilai rapot adalah angka realistis tanpa batasan minimum untuk lulus.
Tamat sekolah dasar, saya diterima di salah satu SMP favorit di kota saya. setiap nilai mata pelajaran sekurang kurangnya harus mendapat nilai 80/100 Agar bisa lulus. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan (baca: tidak lulus), saya didoktrin oleh keadaaan untuk mengikuti petunjuk manual mengerjakan soal dengan hasil yang pasti ketimbang harus mencoba dan bereksplorasi dengan hasil tak tentu.
Lingkungan juga berubah, satu kesalahan yang tidak diinginkan terjadi atau satu pasang angka di rapot tidak mecapai minimum, maka probabilitas untuk dibully atau dijudge dodol melambung mendekati satu.  Sehingga secara reflek saya menjadi hamba nilai. “Berijtihad” Menghalalkan semua cara (baca: mencontek) agar bisa mendapat nilai diatas KKM (kriteria ketuntasan minimal). Jika dirasa  masih kurang, maka selepas ujian semester saya akan kerja sampingan sebagai kuli nilai. Mengerjakan tugas yang banyak untuk menaikan nilai, dan jika masih kurang lagi saya akan jadi pengemis berharap belas kasih agar nilai saya dikatrol sampai ambang batas KKM sehingga orang tua tidak perlu berkomentar (baca : mengomel) perihal sepasang angka di raport. Angka-angka di raport adalah hasil manipulasi dan ijtihad keliru. 
Sumber : https://www.zenius.net/
Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA favorit di provinsi saya. Konsep diri yang tercipta dari opini negatif lingkungan memicu pola pikir yang keliru dalam  mengaktualisasikan diri saya, sehingga mindset sebagai hamba nilai membuat saya memilih lebih banyak “berijtihad”, menjadi kuli, dan mengemis ketimbang harus belajar secara serius. Bukankah di rapot hanya tercantum angka tanpa keterangan cara mendapatkannya.
Menjelang ujian nasional beredar kabar bahwa saat ujian nasional akan sulit berijtihad ditambah lagi Dinas Pendidikan tidak sedang mencari kuli dan juga melarang pengemis masuk. Maka saya terpaksa belajar untuk sekedar lulus ujian.
Sumber : https://www.zenius.net/

Dua bulan sebelum ujian nasional, saya dipertemukan dengan Zenius Education. Melihat beberapa video gratis zenius mengelorakan lagi semangat belajar saya yang sudah lama padam. Akhirnya saya menjadi member premium dan benar saja saya ditunjukan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang berhasil dalam hidupnya. Zenius membuka wawasan saya akan luasnya ilmu, merombak total konsep diri dan metode belajar saya, membangkitkan rasa penasaran saya akan misteri teka-teki sains, menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang luas dengan hasil yang tak disangka, menjadikan saya haus akan ilmu, dan gelap tanpa pengetahuan. Saya belajar dari zenius bahwa bakat akan kalah dengan kerja keras. Bukankah ketika lahir kita sama-sama menangis bukan menjelaskan tentang integral atau memberitahu bagaimana cara kita terbentuk Sembilan bulan lalu.
Saya bukan lagi hamba nilai, saya berjanji tidak lagi belajar untuk mendapat nilai atau gelar saya belajar untuk menuntut ilmu. Tapi selesai ujian nasional zenius malah membuat saya bingung, jurusan apa yang harus saya pilih di SBMPTN ? Karena dari zenius saya jadi tahu bahwa setiap disiplin ilmu mempunyai kemungkinan untuk jadi menarik.
Sumber : https://www.zenius.net /blog/1926/kupas-tuntas-soal-sbmptn-2013-bagian-1

Tiba-tiba terbesit sebuah ingatan lama di kepala saya, memori tentang cita-cita masa kecil saya untuk menjadi seorang dokter. Cita-cita yang sudah lama kadung padam kini memercik kembali. Zenius memberikan sumber energi dan harapan baru untuk kembali mengejar cita dan menata masa depan. Dalam waktu satu bulan saya belajar untuk SBMPTN di zenius, saya diterima di jurusan kedokteran di kota saya. Seorang siswa paling malas di SMA lolos jurusan kedokteran. Mungkin mereka tidak bertanya bagaimana metode saya belajar tapi bagaimana pengawasanya?

Satu hal yang saya sesali dari zenius, mengapa saya tidak tahu zenius dari dulu.

Comments

Popular posts from this blog